Data Ufix

Just another WordPress.com weblog

HUBUNGAN PEMBINAAN, KOMPETENSI DENGAN KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI KABUPATEN KUTAI TIMUR

 

PROPOSAL THESIS

 

HUBUNGAN PEMBINAAN, KOMPETENSI

DENGAN KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI

KABUPATEN KUTAI TIMUR

 

 

 

 

Tugas Individu

Mata Kuliah Metode Penelitian

(Dosen Pengampu : Dr. Susilo, M.Pd)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Taufik Hidayat

NIM : 0805136149

Program Studi : Manajemen Pendidikan

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat Rahmat  Hidayah-Nya lah hingga proposal ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Proposal ini adalah salah satu syarat untuk membuat Thesis dan sebagai syarat utama dalam menyelesaikan perkuliahan program pasca sarjana (S2). Dalam penulisan proposal ini penulis sampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak dan Ibu pembimbing yang telah mencurahkan segenap tenaga dan waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyusun proposal ini .

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan proposal ini masih jauh dari sempurna, hal ini karena keterbatasan kemampuan penulis dalam penyusunan proposal ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dalam penyempurnaan penyusunan proposal ini.

Kepada rekan-rekan mahasiswa pasca sarjana kependidikan yang lain, penulis juga berharap agar saran dan kritik membangunnya dapat membantu saya dalam proses penyempurnaan proposal ini.

Atas kritik dan saran Bapak dan ibu pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa pasca sarjana kependidikan, saya  mengucapkan banyak terima kasih. Semoga hal ini menjadi amal jariah bagi bapak/ibu pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa sekalian, Amin.

 

 

 

Samarinda, 17 Mei 2008

 Penulis

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman

 

KATA PENGANTAR   ………………………………………………………           i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………          ii

BAB I              PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah …………………………………..            1

B.     Identifikasi Masalah ………………………………………             3

C.     Pembatasan Masalah ………………………………………           3

D.     Perumusan Masalah………………………………………..            4

E.      Kegunaan Penelitian ………………………………………             4

BAB II             KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS

A.  Diskripsi Teoritis …………………………………………..            5

1. Hakekat Kedisiplinan ……………………………………           5

2. Hakekat Pembinaan ……………………………………..           6

3. Hakekat Rencana Kerja …………………………………..        8

4. Hakekat Kompetensi …………………………………….          9

                        B.  Penelitian yang Relevan …………………………………..            12

                        C.  Kerangka Berfikir …………………………………………          12

                        D.  Pengajuan Hipotesis ………………………………………           15

BAB III            DESAIN PENELITIAN

                        A.  Tujuan Penelitian ………………………………………….           16

                        B.  Tempat Dan Waktu Penelitian ……………………………….           16

                        C.  Metode Penelitian …………………………………………          16

                        D.  Teknik Pengambilan Sampel ………………………………           17

                        E.  Instrumen Penelitian ………………………………………            18

                        F.  Teknik Pengumpulan Data ………………………………..            23

                        G.  Teknik Analisa Data ………………………………………           23

                        H.  Hipotesis Statistik …………………………………………          25

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………         26

BAB I   

 PENDAHULUAN

 

 

 

A. Latar Belakang Masalah

 

            Pendidikan sebagai ujung tombak kemajuan bangsa harus mendapat perhatian yang serius dari semua pihak, terutama pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Kemajuan pendidikan merupakan cerminan kemajuan suatu bangsa dan negara.

            Melalui pendidikan akan dicetak manusia-manusia Indonesia yang berkualitas, manusia Indonesia yang berbudi luhur dan berilmu pengetahuan yang tinggi. Kualitas pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula. Dalam bidang pendidikan diharapkan munculnya sumber daya manusia yang mempunyai sumber daya tinggi, bertanggung jawab, dan mengerti tugasnya.

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan     mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.1

            Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab negara, dan pelaksanaan diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan, baik formalmaupun non formal. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut, dalam menyelenggarakan pendidikan tetap mengacu pada aturan-aturan pemerintah pusat  sebagai konsekuensi dari sistem sentralisasi. Seiring mulai diberlakukannya sistem otonomi daerah yang imbasnya juga akan dirasakan dalam bidang pendidikan. Sekolah diberi kesempatan untuk mengatur rumah tangganya sendiri.

Dengan pemberian otonomi sekolah, semua personal yang terlibat dalam pendidikan terutama guru sebagai pelaksana pendidikan, harus kreatif dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tuganya, terutama lebih meningkatkan kedisiplinan. Disiplin merupakan jalan menuju sukses.

Berdasarkan pengamatan penulis, di lapangan masih banyak ditemukan guru yang melaksanakan tugasnya dengan disiplin yang rendah. Wujud dari ketidak disiplinan guru antara lain: guru sering tidak hadir di sekolah, guru datang terlambat dan pulangnya lebih cepat, guru tidak disiplin dalam memberi nilai, juga tidak disiplin dalam penyusunan perangkat pembelajaran.

Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Diknas Kaltim Asnawi, dalam Arah Pendidikan kaltim Belum Jelas. Mugni menekankan bahwa belum ada kesatuan sikap mengenai penindakan terhadap guru-guru yang tidak melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan Mugni berhadapan dengan pengadilan karena akan membenahi disiplin guru.

Dari uraian diatas menunjukan bahwa disiplin guru dalam melaksanakn tugasnya masih rendah. Sebagai seorang guru yang mempunyai tugas mendidik siswa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnyamempunyai kesadaran berdisiplin yang tinggi untuk memikul tugas mulia tersebut.

Kesadaran berdisiplin yang rendah merupakan salah satu bukti pelanggaran kedinasan. Untuk mencegah pelanggaran tersebut pihak atasan harus mengontrol, dan yang paling penting adalah contoh kepada bawahan, sehingga perilaku disiplin dapat menjadi budaya yang patut dibanggakan.

            Banyak hal yang dapat menyebabkan guru menjadi tidak disiplin. Antara lain kesejahteraan guru yang kurang memadai. Guru lebih mengutamakan mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Sehingga ia melaksanakan kewajibannya sebagai guru hanya sekedarnya saja. Selain itu bisa juga karena guru tidak siap atau kehilangan kewibawaannya di depan anak didik, sehingga guru menjadi malas untuk masuk kelas. Ketidakdisiplinan guru dapat berakibat ke siswa, sehingga siswa juga ikut tidak disiplin.

            Penerapan disiplin nasional secara tuntas dan konsekuen haruslah dilaksanakan di dalam setiap lingkungan pendidikan, baik formal maupun non formal. Pelaksanaan displin di lingkungan formal mencakup pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.

 

B. Identifikasi Masalah

 

            Sesuai dengan uraian yang telah penulis paparkan pada latar belakang, dapat diketahui bahwa masalah utama yang sangat mendesak untuk dikaji adalah masalah kedisiplinan guru. Dari kedisiplinan guru dapat dilihat sumber daya manusia pendidikan yang ada. Sepandai-pandainya seorang guru, kalau ia tidak disiplin, dapat dipastikan kalau program kerja yang telah disusun tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Apabila program kerja tidak dapat dilaksanakan berarti tujuan pendidikan tidak dapat dicapai.

            Kedisiplinan guru tidak dapat dipisahkan dengan pembinaan dari kepala sekolah. Antara kepala sekolah dan guru harus ada kata sepakat untuk bersikap disiplin. Dari masalah-masalah di atas, dapat diidentifikasi sebagai berikut: Apakah guru sudah mempunyai kedisplinan yang tinggi untuk melaksanakan tugasnya? Mungkinkah sikap disiplin dapat seiring dengan pengembangan sumber daya manusia? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kedisiplinan guru? Bagaimana meningkatkan kedisplinan guru? Apakah pengaruh kedisiplinan guru bagi siswa? Hambatan-hambatan apa yang disebabkan karena guru tidak disiplin? Sebarapa tinggi disiplin guru menghambat dalam pengembangan kompetensinya? Seberapa jauh kepala sekolah membina disiplin guru?.

 

C. Pembatasan Masalah

 

            Dari sejumlah identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah pada: pembinaan dari kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

            Pembahasan ini penulis lakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan terperinci dari masalah-masalah tersebut.

 

 

 

 

D. Perumusan Masalah

 

            Berdasarkan identifikasi masalah di atas, perumusan masalah yang diperoleh adalah:

1. Apakah terdapat hubungan pembinaan dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di   Kabupaten Kutai Timur.

2. Apakan terdapat hubungan antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru       SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

3. Apakah terdapat hubungan antara pembinaan dari kepala sekolah pada rencana  kerja guru, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

 

E. Kegunaan Penelitian

 

1. Secara Teoritis

     Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi   perkembangan ilmu manajemen pendidikan dan bahan penelitian lebih lanjut bagi peneliti selanjutanya. Selain itu untuk menambah wawasan keilmuan dan memberi informasi kepada semua pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan.

 

2. Secara Praktis

    Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

            a. Motivasi para guru untuk meningkatkan keprofesionalannya dalam      

                menjalankan tugas mulianya.

b. Memberi masukan kepada para guru dalam meningkatkan kinerjanya                  

                dengan berdisiplin.

c. Memberi masukan kepada kepala sekolah untuk meningkatkan kinerjanya  

   di lingkungan sekolah yang dipimpinnya.

d. Memberi masukan kepada para pejabat yang berwenang di lingkungan

                diknas untuk meningkatkan pengawasannya tentang kedisiplinan guru.

 

 

BAB II

KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS

 

 

 

A.   Diskripsi Teoritis

 

1.   Hakekat Kedisiplinan

Menurut Atmosudirjo, dikatakan disiplin adalah: (1). Sikap mental tertentu yang merupakan sikap taat dan tertib. (2). Suatu pengetahuan tingkat tinggi tentang sistem aturan-aturan perilaku.  (3). Suatu sikap yang secara wajar menunjukan kesanggupan hati-hati.

            Berdasarkan pengertian diatas, konsep disiplin meliputi dua aspek, yaitu sikap dan perilaku yang keduanya saling berkaitan. Sikap merupakan kesanggupan jiwa yang timbulnya didasari oleh pengetahuan emosinya, dapat menumbuhkan kesadaran untuk mematuhi tata tertib atau peraturan yang ada. Tanpa didasari oleh pengetahuan tentang norma-norma dan peraturan-peraturan berlaku disiplin yang dilakukan akan menjadi kaku. Perilaku disiplin merupakan tindakan nyata atau perbuatan yang timbul sebagai akibat adanya kesadaran kepatuhan pada dirinya.

            Dalam Ensiklopedi Pendidikan, disiplin mempunyai beberapa arti, satu diantaranya “suatu tingkat tata tertib tertentu untuk mencapai kondisi yang lebih baik guna memenuhi fungsi pendidikan. Pengertian disiplin selalu berkaitan pada kepatuhan dalam menjalankan tata tertib, norma atau aturan-aturan yang berlaku.

“Disiplin juga merupakan usaha untuk menanamkan kesadaran pada setiap personel tentang tugas dan tanggung jawab, agar menjadi orang yang bersedia dan mampu memikul tanggung jawab atas semua pekerjaannya”.

“Disiplin adalah penurutan terhadap suatu peraturan dengan kesadaran sendiri untuk terciptanya tujuan peraturan ini”. Setiap pegawai dituntut mentaati peraturan yang telah ditentukan oleh lembaga atau instansi tempat pegawai tersebut bekerja. Rasa tanggung jawab yang tinggi akan menimbulkan kedisiplinan yang didasari oleh kesadaran untuk melaksanakan tugasnya.

Peningkatan disiplin kerja guru dapat diterapkan dengan melihat faktor kondisional dan situasional sekolah dan guru itu sendiri. Sehingga kebijakan-kebijakan yang ada dapat berjalan dengan baik dan bisa diterima oleh semua pihak.

Pembinaan terhadap disiplin kerja guru ini dapat juga dilakukan dengan menerapkan langkah-langkah pengawasan yang dapat diterapkan dalam rangka membina disiplin kerja guru tersebut adalah: merumuskan standar, mengadakan perbaikan jika terdapat kekurangan dan ketidakdisiplinan.

Selain itu pembinaan terhadap disiplin kerja guru dapat juga menggunakan pendekatan agama. Hal ini disebabkan karena semua guru pasti beragama. Dalam setiap agama mewajibkan kepada setiap pemeluknya untuk disiplin dalam menjalankan agamanya. Guru yang patuh pada agamanya, dapat dipastikan dapat menjalankan tugasnya dengan disiplin yang tinggi.

   Disiplin adalah suatu sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib. Disiplin adalah sikap yang tercermin dalam perbuatan, tingkah laku, tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan pemerintah, atau etika, norma dan kaidah yan berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tertentu.

Menurut pendapat diatas bahwa disiplin merupakan cermin sikap mental dari setiap orang atau kelompok pada peraturan atau norma dalam masyarakat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

2. Hakekat Pembinaan

 

Pembinaan merupakan suatu tanggung jawab pimpinan yang harus diberikan kepada bawahan secara kontinyu agar bawahan selalu merasa ada perhatian dari pimpinan dalam hubungan kerja. Memberi pembinaan kepada bawahan sama halnya dengan memberi motivasi kerja. Seorang manajer atau pimpinan harus mampu memberi dorongan kepada bawahannya agar dapat bekerja sesuai dengan kebijakan dan rencana kerja yang telah digariskan.

Bimbingan (direction) berarti memelihara, menjaga dan memajukan organisasi melalui setiap personal, baik secara struktural maupun fungsional, agar kegiatannya tidak terlepas dari usaha mencapai tujuan.

Berdasarkan pengertian diatas bahwa bimbingan atau pembinaan adalah merupakan salah satu usaha untuk menumbuh kembangkan organisasi. Usaha tersebut melalui setiap personal, agar setiap kegiatan yang dilakukan dapat mencapai tujuan.

Dalam bimbingan tersebut juga memberi dorongan agar personal organisasi dapat bekerja lebih kreatif  dan berdedikasi tinggi. Apabila setiap personal struktural maupun fungsional dapat menjalankan fungsinya dengan baik berarti pembinaan yang diberikan oleh pimpinan dapat dikatakan berhasil. “Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang baik”. Untuk memperoleh hasil kerja yang berkualitas, diperlukan peran serta dari pimpinan. Pimpinan harus mampu memberi pembinaan kepada bawahan agar dapat bekerja secara berdaya guna dan berhasil guna, sehingga pekerjaan yang dihasilkan mempunyai kualitas.

“Pembinaan terhadap staf tidak hanya pada anggota yang baru saja, tetapi juga kepada seluruh staf”.  Pembinaan harus dilakukan secara terus-menerus dan secara sistematis/programatis. Berbagai macam perkembangan, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan tekhnologi, maupun perkembangan masyarakat dan kebijakan-kebijakan baru menjadikan pembinaan dari atasan sangat penting.

Salah satu indikasi keberhasilan sekolah adalah keterkaitan yang tinggi kepala sekolah terhadap perbaikan pengajaran. Kepala sekolah sesuai dengan jenjang sekolah yang dipimpinnya perlu memahami program pengajaran masing-masing.

   “Membina guru-guru ialah mengembangkan profesi, termasuk kepribadian mereka sebagai guru”.  Untuk meningkatkan profesionalisme dan kepribadian guru, sangat perlu adanya pembinaan dari atasan. Dengan memberi pembinaan, diharapkan para guru lebih bertanggung jawab pada tugas yang di emban.

    Pembinaan kepada guru-guru dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor. Dengan demikian seorang kepala sekolah berkewajiban untuk selalu membina, dalam arti berusaha untuk meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik. Dari empat macam pembinaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah, penulis akan mengemukakan tentang pembinaan program pengajaran. Ada empat fase proses pembinaan program pengajaran: (1). Penilaian sasaran program (2). Merencanakan perbaikan program, dan (3). Melaksanakan perubahan program (4). Evaluasi perubahan program.

 

3. Hakekat Rencana Kerja

 

                     “Perencanaan itu dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang  untuk mencapai tujuan yan gtelah ditentukan”.  Menurut pendapat diatas bahwa perencanaan merupakan sebuah langkah awal dalam melaksanakan sebuah kegiatan yang diawali dengan penyusunan draft blue print yang akan diimplementasikan dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

                     Merencanakan pengajaran berarti merecanakan suatu sistem pengajaran. Sistem pengajaran merupakan suatu sistem yang komplek, sehingga tugas merencanakan pengajaran bukanlah tugas yang mudah bagi seorang guru. Ia menuntut pemilikan kemampuan berfikir yang tinggi untuk memecahkan masalah-masalah pengajaran. Lebih dari itu ia menuntut kemampuan yang tinggi untuk bisa mengidentifikasi unsur-unsur pengajaran dan menghubung-hubungkan satu sama lain.

                     Berdasarkan pendapat diatas, bahwa merencanakan pengajaran berarti menyusun suatu sistem pengajaran yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan dari guru, karena menyusun rencana pengajaran bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

                     Suatu keputusan terhadap apa yang akan dilaksanakan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu sebagai yang telah ditetapkan dengan melalui prosedur atau langkah-langkah yang sistematis dan memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan tugas/pekerjaan tersebut.

                            Menurut pendapat diatas bahwa untuk melaksanakan suatu pekerjaan diperlukan pemikiran-pemikiran untuk melaksanakn pekerjaan tersebut, yang pada akhirnya diambil suatu keputusan yang berupa langkah-langkah konkrit untuk mencapai tujuan. Seseorang dalam melaksanakan langkah-langkah pekerjaan tersebut harus berdasarkan prinsip-prinsip yang ada.

                     “Perencanaan pada hakekatnya merupakan suatu proses yang mengarah berbagai usaha untuk mencapai tujuan”.  Menurut pendapat tersebut perencanaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Suatu pekerjaan dapat berhasil dengan baik apabila dalam pengajarannya telah ditentukan langkah-langkah atau urutan-urutan pelaksanaan pekerjaan tersebut.

                     Sedangkan Yusuf Enoch mengatakan bahwa “Perencanaan sebagai suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu”. Dalam melaksanakan suatu kegiatan diperlukan adanya suatu perencanaan yang merupakan perincian kegiatan apa saja yang akan dilaksankan, berdasarkan rencana-rencana yang telah disusun.

            Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di sekolah harus menguasai dalam penyusunan rencana pengajaran yang merupakan rencana guru. Dengan kemampuan yang dimiliki, kepala sekolah dapat memberi pembinaan kepada guru dalam penyusunan program kerja tersebut. Hamalik menjelaskan dalam menyusun rencana pengajaran terdapat dua aspek yaitu perilaku (perfomance) dan aspek keterangan (informasi).

 

4. Hakekat Kompetensi

 

            Dalam suatu profesi, kemampuan melaksanakan tugas dari keahlian yang menjadi tanggung jawabnya merupakan syarat utama. Kemampuan dasar itulah yang dinamakan kompetensi.

            “Kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu”. Seseorang yang melaksanakan suatu pekerjaan mempunyai kewenangan untuk membuat sebuah keputusan. Pada pekerjaan profesi kewenangan untuk mengambil keputusan dimiliki oleh orang yang mempunyai profesi tersebut. Setiap profesi harus diikuti oleh kompetensi bagi pemiliknya, sehingga pekerjaan tersebut mempunyai arti dalam penerapannya.

            Sahertian mengatakan bahwa “Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan”. Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa kompetensi merupakan penguasaan dalam suatu bidang ilmu yang diperoleh dengan mengikuti pendidikan dan latihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang, dan semakin sering berlatih, akan semakin tinggi seseorang sangat membantu dalam melaksanakan tugasnya. Sahertian mengemukakan bahwa guru yang kompeten harus mampu mengembangkan tiga aspek kompetensi pada dirinya, yaitu: (a). Kompetensi pribadi (b). Kompetensi profesional, dan (c). Kompetensi sosial. Selain pendapat diatas, pendapat lain tentang kompetensi dikemukakan oleh Houston sebagaimana berikut:

Seseorang yang dikatakan kompeten dibidang tertentu adalah seseorang yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, dan mempunyai wewenang dalam pelayanan sosial dimasyarakatnya, yang secara kompeten orang tersebut mampu bekerja dibidangnya secara efektif dan efisien.

            Dari pendapat diatas dapat dimengerti bahwa kompetensi adalah kemampuan seseorang dalam penguasaan pekerjaan yang menjadi keahliannya. Kemampuan tersebut diakui oleh sesama profesinya dan masyarakat, karena seseorang yang mempunyai kompetensi dalam suatu bidang pekerjaan diharapkan mampu bekerja dengan berdaya guna dan berhasil guna.

            Selain pendapat diatas, ada pendapat yang lebih merinci tentang kompetensi yang dikatakan oleh Cooper dalam bukunya The Teacher As A Decision Maker, mencakup: (a). Memiliki pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia (peserta didik). (b). Memiliki sikap yang tepat terhadap diri sendiri, sekolah, peserta didik, teman sejawat dan mata pelajaran yang dibina. (c). Menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan. (d). Memiliki keterampilan teknis dalam mengajar, dan strategi belajar mengajar.

            Sedangkan Zamroni berpendapat “bahwa guru memerlukan tiga kemampuan dasar, yakni Didaktik, Coaching dan Socratic. Dari sini sudah jelas bahwa sudah saatnya posisi mengajar diletakkan kembali pada profesi yang tepat untuk pembinaan dan pengembangan profesional kemampuan guru, yang diperlukan bukannya juknis, juklak dan intruksi serta berbagai pedoman yang cenderung mematikan kreatifitas guru.

            Agar kompetensi (kemampuan) guru memperoleh kemampuan dan peningkatan, maka guru harus aktif dalam program-program pelatihan guru, baik didalam maupun diluar sekolah. Selain itu guru juga harus mengembangkan kompetensinya melalui perpustakaan-perpustakaan. Dengan demikian guru tidak akan ketinggalan dalam menyerap informasi baru tentang pengajaran. Supaya kompetensi profesional  benar-benar dikuasai oleh guru, maka seorang guru harus memiliki motivasi kompetensi dalam dirinya. “Motivasi kompetensi adalah dorongan untuk mencapai keunggulan kerja, meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, dan berusaha keras untuk inovatif”.

            Sedangkan  menurut Raka Joni Dalam suyatno mengemukakan ada tiga dimensi umum yang menjadi kompetensi tenaga pendidikan: (a). Kompetensi personal. (b). Kompetensi profesional. (c). Kompetensi kemasyarakatan. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa seorang guru harus merupakan sosok yang berkualifikasi berbagai kemampuan yang akan tercermin pada karakter kepribadiannya.

            Dikatakan Lardizabal bahwa kompetensi keguruan meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional terlihaat dalam diagram dibawah ini.

 

Kompetensi

Profesional

…………….

Kompetensi

Personal-Sosial

 

Tindakan keguruan:

Membimbing,

Mengajar, dan

melatih

 

 

 

                       

        

                                   

 

Gambar 1

Integrasi antara kompetensi kepribadian-sosial

 dengan kompetensi professional

 

Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam bekerja melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan menerapkan semua aspek pengajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.

B. Penelitian Yang Relevan

 

Penelitian Made Pidarta menyimpulkan bahwa kompetensi dosen digunakan untuk menarik kesimpulan etos kerja dosen yang memiliki beberapa indikator, yaitu dedikasi (mencakup moral dan mental). Kemampuan memecahkan masalah, antar hubungan, berpartisipasi, penguasaan bahan ajar. Makna dari kesimpulan tersebut ada hubungan positif antara dedikasi, antar hubungan, partisipasi, dan penguasaan bahan ajar  dengan kompetensi dosen.

Penelitian ini mempunyai persamaan dalam hal kompetensi. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian Made Pidarta adalah mengenai obyek, tempat, waktu penelitian, dan beberapa variabelnya. Dalam penelitian Made Pidarta yang diteliti adalah kompetensi dosen dalam Etos Kerja Dosen, 1999, maka yang diteliti dalam kesempatan ini adalah pembinaan dari kepala sekolah, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru.

 

C. Kerangka Berpikir

 

Berdasarkan konstruksi dari masing-masing variabel yang telah diuraikan diatas, selanjutanya dilakukan analisis rasional tentang hubungan dari  masing-masing variabel bebas, yaitu pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dan variabel terikat kedisiplinan guru.

 

1.      Hubungan Antara Pembinaan Dengan Kedisiplinan Guru

            Pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru adalah bimbingan dan arahan yang diberikan oleh kepala sekolah kerpada guru dalam penyusunan program pengajaran yang dijadikan sebagai pedoman melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Pembinaan tersebut harus diberikan secara kontinyu, agar rencana kerja selalu ada peningkatan, baik dalam penyusunan maupun dalam pelaksanaannya. Kedisiplinan guru adalah ketaatan guru pada peraturan kedinasan dalam menjalankan tugas profesionalnya yang tercermin dalam bentuk tindakan positif yang tidak merugikan orang lain. Seorang guru yang bekerja dengan penuh tanggung jawab untuk melaksanakan semua tugasnya sesuai dengan peraturan yang ada, dapat dikatakan bahwa guru tersebut telah melaksanakan kedisiplinan.

Berdasarkan uraian diatas dapat diduga terdapat hubungan positif antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dengan kedisplinan guru, artinya makin intensif pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru, makin tingi kedisiplinan guru.

 

2.      Hubungan Antara Kompetensi Guru dengan Kedisiplinan Guru

            Pemahaman tentang kompetensi guru dapat terwujud apabila analis tentang kompetensi guru dikaitkan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam bekerja melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan menerapkan semua aspek pengajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.

            Kompetensi guru merupakan kemampuan guru dalam menjalankan tugas profesionalnya yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Dengan kompetensi yang dimiliki, guru mempunyai wewenang untuk membuat keputusan ketika guru berhadapan dengan tugas-tugasnya di lingkungan pendidikan. Kompetensi yang tinggi akan diakui oleh sesama profesi, dan masyarakat. Kedsiplinan guru adalah ketaatan guru pada peraturan kedinasan dalam menjalankan tugas profesionalnya yang tercermin dalam bentuk tindakan positif dan tidak merugikan orang lain.

            Kompetensi guru mempunyai hubungan dengan kedisiplinan guru, hal ini disebabkan karena guru yang berkompetensi tinggi mempunyai semangat kerja yang tinggi pula. Guru semakin mempunyai rasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. Keyakinan terhadap kompetensi yang dimiliki membuat guru senang dalam melaksanakan tugasnya dengan disiplin yang tinggi.

Berdasarkan uraian diatas dapat diduga terdapat hubungan yang positif antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru, maka semakin tinggi tingkat kedisiplinanya.

 

 

 

3.      Hubungan antara Pembinaan, Kompetensi Guru secara bersama-sama dengan Kedisiplinan Guru

            Telah diuraikan sebelumnya bahwa masing-masing dari kedua variabel bebas, yang terdiri dari pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dan kompetensi guru diduga mempunyai hubungan positif secara bersama-sama dengan kedisiplinan guru. Dengan demikian hubungan ketiga variabel tersebut dapat dijelaskan seperti dibawah ini. Pembinaan kepala sekolah pada dasarnya adalah bimbingan dan arahan yang diberikan kepala sekolah kepada bawahannya agar dapat bekerja lebih baik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan pembinaan, kepala sekolah memberikan pengarahan, motivasi, mengkoordinasi, serta melakukan pengawasan terhadap guru. Pembinaaan dari kepala sekolah pada rencana kerja guru adalah bimbingan dan arahan yang diberikan oleh kepala sekolah kepada guru dalam penyusunan program pengajaran yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Pembinaan kepala sekolah yang diberikan kepada guru menunjukkan adanya hubungan kerja sama antara atasan dan bawahan. Pembinaan kepala sekolah kepada guru dapat meningkatkan hubungan kekeluargaan antara atasan dan bawahan.

            Dalam memberikan pembinaannya kepala sekolah harus bersifat terbuka, mau memberi pendapatnya untuk kemajuan dan kesempurnaan program pengajaran yang disusun. Dan yan paling penting adalah kepala sekolah mempunyai kemampuan lebih dari guru tentang penyusunan program pengajaran. Dengan demikian kepala sekolah dapat memberi masukan kepada guru untuk penyussunan program pengajaran yang berkualitas.

            Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam bekerja melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan menerapkan semua aspek pengajaran untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam hal ini guru dituntut menguasai bahan pengajaran wajib, maupun penunjang untuk keperluan pengajaran. Namun demikian guru bukanlah sumber satu-satunya dalam belajar mengajar. Kepala sekolah yang dapat memberikan pembinaannya dengan baik kepada guru dapat meningkatkan kompetensinya. Guru yang berkompetensi akan lebih baik jika pembinaan dari kepala sekolah terus diberikan, untuk mengembangkan kompetensi guru dapat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada guru dengan mengikuti pelatihan, baik didalam maupun diluar sekolah, memberi kesempatan melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi, serta menyediakan media yang dapat menunjang pengembangan kompetensi guru.

 

D. Pengajuan Hipotesis

 

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai:

1.      Terdapat hubungan positif antara pembinaan dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

2.      Terdapat hubungan positif antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

3.      Terdapat hubungan positif antara pembinaan, kompetensi guru secara bersama-sama dengan kedisiplinan guru di Kabupaten Kutai Timur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

DESAIN PENELITIAN

 

 

 

A. Tujuan Penelitian

 

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1.      Hubungan antara pembinaan guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

2.      Hubungan antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

3.      Hubungan antara pembinaan, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

 

B. Tempat Dan Waktu penelitian

 

Penelitian ini dilaksanakan di beberapa SMP Negeri yang terdapat di Kabupaten Kutai Timur. SMP Negeri tersebut adalah SMP Negeri 1 Sengata Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar. Sedangkan waktu penelitian adalah dari bulan Januari – Juli tahun 2009

 

C. Metode Penelitian

 

Berdasarkan tujuan penelitian ini metode yang digunakan adalah metode korelasional. Metode survey korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan, dan apabila ada, berapa eratnya hubungan, serta berarti atau tidaknya hubungan itu.

Dalam hal ini penulis ingin mengetahui seberapa eratnya hubungan pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Selanjutnya dicari korelasi antara variabel bebas (X1 = p kepala sekolah pada rencana kerja guru, dan X2 = kompetensi guru) dengan variabel terikat (Y = kedisiplinan guru). Paradigma digambarkan sebagai berikut:

                                                                                                                                   

                                                                        r1

 

X1 = Pembinaan Guru

 

 

 

Y =  Disiplin Guru

                                                                            R

 

X2 = Kompetensi Guru

                                                                                                                                                                                   

 

 

                                                                        r2

 

Gambar 2: Paradigma penelitian

 

D. Teknik Pengambilan Sampel

 

Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru SMP Negeri yang terdapat di Kabupaten Kutai Timur yang meliputi SMP Negeri 1 Sengata Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar yang seluruhnya berjumlah 210 orang. Sedangkan penentuan sampel menggunakan Teknik Proporsional Random Sampling sebanyak 160 orang. Teknik Proporsional digunakan untuk menentukan agar banyaknya sampel yang diambil dari kelompok populasi pada tiap-tiap SMP seimbang.

Keseimbangan tersebut ditetapkan sebesar 30 %. Selanjutnya untuk menentukan guru yang menjadi sampel penelitian ditentukan dengan teknik random.  Langkah-langkah untuk menentukan sampel adalah dengan cara sebagai berikut:

1.      Memberi nomor kode pada masing-masing guru.

2.      Menuliskan nomor-nomor tersebut pada guntingan kertas.

3.      Menggulung guntingan kertas yang bernomor tersebut, kemudian memasukkan ke dalam kotak.

4.      Mengocok kertas yang berisi gulungan kertas tersebut agar dapat berbaur.

5.      Mengundi gulungan-gulungan kertas tersebut sesuai dengan keseimbangan yang telah ditetapkan  yaitu 30 %.

6.      Nomor-nomor yang terundi itulah yang dijadikan sampel penelitian.

Gambaran jumlah populasi dan sampel dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

            Tabel 1: Gambar sebaran populasi dan sampel

No.

Nama Sekolah

Populasi Guru

Sampel

Jumlah Sampel

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

SMPN 1 Sgt Utara

SMPN 2 Sgt Utara

SMPN 1 Sgt Selatan

SMPN 2 Sgt Selatan

SMPN 1 Sangkulirang

SMPN 1 Bengalon

SMPN 1 Kongbeng

SMPN 1 Ma. Bengkal

SMPN 1 Ma. Ancalong

SMPN 1 Bartu Ampar

30

17

21

20

20

21

15

25

22

19

30 %

30 %

30 %

30 %

30 %

30 %

30 %

30 %

30 %

30 %

 

210

30 %

 

 

 

E. Instrumen Penelitian

 

Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan angket, yang seluruhnya diisi oleh guru yang terdapat di SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur, yaitu SMP Negeri 1 Sengata Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar yang terpilih menjadi anggota sampel. Penyusunan instrumen penelitian berdasarkan teori-teori yang tercantum pada BAB II. Definisi konseptual, operasional, kisi-kisi, dan kalibrasi instrumen dari masing-masing variabel tercantum pada bagian dibawah ini.

1.   Kedisiplinan guru (Y)

a.       Definisi Konseptual

Kedisiplinan guru adalah kepatuhan guru terhadap peraturan-peraturan yang didasari dengan kesadaran dalam dirinya untuk menjalankan tugas-tugas keguruannya tanpa adanya pelanggaran dirinya sendiri, orang lain atau sekolah.

b.      Definisi Operasional

Kedisiplinan guru merupakan ketaatan guru pada peraturan kedinasan dalam menjalankan tugas profesionalnya yang tercermin dalam bentuk tindakan positif dan tidak merugikan orang lain.

c.       Kisi-Kisi Instrumen

Tabel 2: Kisi-kisi instrumen final kedisiplinan guru.

No.

Indikator

No. Butir Pernyataan

Jumlah

1.

1. Disiplin sebagai pegawai  

2. Disiplin dalam melaksanakan

    KBM

3. Disiplin dalam bekerjasama

1, 2

3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14

15, 16, 17, 18, 19

 

 

19

 

d.      Kalibrasi Instrumen

1.      Validitas

            Validitas sering diartikan dengan kesahihan.  Validitas bukan pada tes yang dibuat, tetapi validitas terletak pada hasil pengetesan atau skornya. Dapat juga dikatakan bahwa tes yang valid adalah tes yang mempunyai kecocokan antara hasil dan tujuan yang akan dicapai.

 

 

Untuk Menganalisis validitas butir instrumen kedisiplinan guru digunakan rumus “Korelasi Product Moment”, hasil uji coba validitas butir menunjukkan bahwa dari 19 butir pernyataan, semua valid.  Uji coba validitas instrumen penelitian diadakan di SMP Negeri yang terdapat di Kabupaten Kutai Timur sebanyak 60 orang guru.

 

2.      Reliabilitas

            Reliabilitas sering diartikan keterandalan atau keajegan bila tes tersebut diujikan hasilnya relatif sama.  Untuk  menghitung reliabilitas instrumen penelitian digunakan rumus Alpha Cronbach.

 

2.   Pembinaan Kepala Sekolah Pada Rencana Kerja Guru (X1)

a.   Definisi Konseptual

            Pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru merupakan bimbingan yang diberikan kepala sekolah kepada guru dalam penyusunan dalam bentuk pengelolaan pengawasan, dan penilaian.

 

b.   Defini Operasional

            Pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru merupakan bimbingan atau arahan yang diberikan kepala sekolah kepada guru dalam penyusunan program pengajaran agar menjadi program yang berkualitas, yang dinyatakan dalam bentuk skor setelah responden mengisi angket peneltian.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru adalah angket yang berbentuk non tes. Jumlah pertanyaan sebanyak 19 butir. Setiap butir pernyataan terdiri dari lima alternatif jawaban, yaitu: SL = selalu dengan skor 5, SR = sering dengan skor 4, KD = kadang-kadang dengan skor 3,     JR = jarang dengan skor 2, dan TP = tidak pernah dengan skor 1.

 

 

 

 

 

c.   Kisi-Kisi Instrumen

Tabel 3 : Kisi-kisi instrumen final variabel pembinaan kepala sekolah  pada      rencana kerja guru.

No.

Indikator

Nomor Butir

Jumlah

1.

1. Pembinaan pada  penyusunan    

    rencana kerja

2. Pembinaan pelaksanaan  rencana

    kerja guru

3. Pembinaan Pelaksanaan

    perubahan program

4. Evaluasi perubahan program

 

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

 

10, 11, 12, 13, 14, 15

 

15, 16, 17, 18, 19

16, 17, 18, 19

 

 

 

19

 

 

d.   Kalibrasi Instrumen

1.   Validitas

Untuk menganalisis validitas butir instrumen pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru digunakan rumus “Korelasi Product Moment”. Hasil uji coba validitas butir menunjukkan bahwa dari 19 butir pernyataan, semua valid. 8 uji validitas instrumen penelitian diadakan di 10 SMP Negeri yang ada di Kabupaten Kutai Timur, yaitu SMP Negeri 1 Sengata Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar dengan jumlah responden 160 orang guru.

2.   Reliabilitas

Untuk menghitung reliabilitas instrumen penelitian digunakan rumus Alpha cronbach.

 

3.   Kompetensi guru (X2)

a.   Definisi Konseptual

Kompetensi guru adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Indikator yang digunakan untuk mengukurnya adalah penguasaan bahan pelajaran, mengelola proses belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/ sumber belajar, mengelola interaksi belajar mengajar dan menilai hasil dan proses belajar mengajar.

b.   Definisi Operasional

               Kompetensi guru adalah total skor yang diperoleh dari jawaban responden terhadap instrumen yang mengukur kompetensi guru dalam penguasaan bahan pelajaran, pengelolaan kelas, pengelolaan media/ sumber belajar, mengelola interaksi belajar mengajar, dan menilai hasil dan proses belajar mengajar, dan menilai hasil dan proses belajar mengajar, instrumen ini terdiri dari 50 butir dan setiap butir mempunyai 4 alternatif jawaban A, B, C, D.

c.   Kisi-Kisi Final Kompetensi Guru

Tabel 4 :

No.

Indikator

No. Butir

Jmlh Butir

1.

Menguasai bahan pelajaran

1, 2, 3, 4, 5

5

2.

Mengelola proses belajar

6, 7, 8, 9, 10

5

3.

Mengelola kelas

11, 12, 13, 14, 15

5

4.

Meggunakan media/ sumber

16, 17, 18, 19, 20

5

5.

Belajar menguasai landasan

21, 22, 23, 24, 25

5

6.

Kependidikan mengelola interaksi belajar mengajar

 

26, 27, 28, 29, 30

 

5

Jumlah  Soal

30

 

d.  Kalibrasi Instrumen

1.  Validitas

Validitas instrumen diuji dengan menggunakan koefisien korelasi antara skor butir instrumen dengan skor (rhit) melalui teknik korelasi “Product Moment (Person)”. Analisis dilakukan terhadap semua butir instrumen. Kriteria pengujiannya ditetapkan dengan cara membandingkan rhit berdasarkan hasil perhitungan dengan    rtab jika pada perhitungan rhit > r tab maka butir instrumen dianggap tidak valid. Sehingga item soal tersebut tidak dapat dipergunakan untuk penelitian.

Koefisien reliabilitas instrumen dimaksud untuk melihat jawaban butir-butir pernyataan yang diberikan oleh guru SMP Negeri di Kecamatan Muara Bengkal dan analisis dengan menggunakan item soal sebanyak 40 besaran koefisien korelasi.

 

F. Teknik Pengumpulan Data

 

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, merupakan angket yang menghendaki jawaban pendek, atau jawabannya diberikan dengan membubuhkan tanda tertentu. Daftar pertanyaan disusun dengan disertai alternatif jawabannya, responden diminta untuk memilih salah satu jawaban dari alternatif yang sudah disediakan.

 

G. Teknik Analisis Data

 

Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode kuatitatif, metode statistik yang digunakan adaslah statistik deskriptif dan statistik non parametik. Statistik deskriptif bertujuan untuk memperoleh gambaran karakteristik penyebaran skor setiap variabel yang diteliti dengan menghitung rata-rata, simpangan baku, median, modus serta visualisasi data berupa tabel dan grafik.

            Statistik non parametik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik Koefisien Korelasi Rank  Spearman (rs), Koefisien Korelasi Kendali (r), dan Koefesien Korelasi Rangking Partial Kendali. Sebelum Pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis, yaitu uji normalitas.

1.      Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk menentukan normal tidaknya distribusi data penelitian. Hal ini berpengaruh terhadap metode statistik yang digunakan. Uji normalitas yang digunakan adalah dengan Program Komputer Microstat. Data penelitian normal apabila harga x2 hitung <  x2 tabel  atau p> 0,05 dengan taraf signifikan α = 0,05.

 

 

 

2.      Uji Hipotesis

a.   Hipotesis 1

Terdapat hubungan yang positif antara pembinaan dari kepala sekolah pada rencana kerja guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan Analisis Koefesien Korelasi Rank Spearman (rs) seperti yang dikemukakan oleh Siegel.  Jika jumlah sampel yang terlalu besar N≥10 maka koefisien korelasi didekati dengan uji t (student’s t). Dengan kriteria sebagai berikut Ho ditolak jika thitung < ttabel dan sebaliknya, pada taraf signifikan α = 0,05.

 

b.   Hipotesis 2

Terdapat hubungan yang positif antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kecamatan Muara Bengkal. Hipotesis ini diuji dengan menggunakan analisis koefisien Korelasi Rank Spearman: rs seperti yang dikemukakan oleh Siegel.  Jika jumlah sampel yang terlalu besar N≥10 maka koefisien korelasi didekati dengan uji t (student’s t).

Dengan kriteria sebagai berikut Ho ditolak jika thitung < ttabel dan sebaliknya, pada taraf signifikan α = 0,05.

 

c.   Hipotesis 3

Terdapat hubungan yang posistif antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kecamatan Muara Bengkal. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan analisis koefisiensi Korelasi Ranking Partial Kendali: Txy.z seperti yang dikemukakan oleh Siegel.38  Jika jumlah sampel yang terlalu besar N≥10 maka koefisien korelasi didekati dengan uji Z dan nilai Z dibandingkan dengan tabel kemungkinan yang berkaitan dengan harga-harga seekstrim harga-harga Z observasi dalam distribusi normal. Dengan kriteria sebagai berikut Ho ditolak jika p<0,05 dan sebaliknya, pada taraf signifikan α = 0,05.

 

 

 

H. Hipotesis Statistik

 

Ho: Hipotesisa awal adalah

1.      Tidak ada hubungan antara X1 dan Y

2.      Tidak terdapat hubungan antara X2 dan Y

3.      Tidak terdapat hubungan X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap Y

Keterangan:

Ho adalah Hipotesis nol

Ho adalah Hipotesis Alternatif

Px1y adalah koefisien korelasi antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dengan kedisiplinan guru.

Px2y adalah koefisien korelasi antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru.

Pyx1x2 adalah koefisien korelasi antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dan kompetensi guru dengan kedisiplinan guru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Arikunto, Suharsimi. Dasar–Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bima Aksara, 1999.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.

Atmodiwiro, Subagio. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Ardadirya Jaya, 2000.

Bafadal, Ibrahim. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen Dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.

Departemen Pendidikan Nasional. Panduan Manajemen Sekolah. 2000.

Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Mulyasa, Manajemen Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Imron, Ali. Pembinaan Guru Di Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka, 1995.

Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Pidarta, Made. Jurnal Ilmu pendidikan. Malang: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia, November, 1999.

Riyanto, Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 2001.

Samana, Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisus, 1994.

Siegel, Sidney. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu Sosial. Jakarta: Gramedia, 1997.

Saydam, Gouzali. Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) I. Jakarta: PT. gunung Agung, 2000.

Soewadji, Lazaruth. Kepala Sekolah Dan Tanggung Jawabnya. Yogyakarta: Kanisius, 1988.

Suyanto, Hisyam, Djihad. Refleksi Dan Reformasi Pendidikan Di Indonesia. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2000.

Thoha, Chabib.Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1991.

Tilaar. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera, 2001.

Wahyosumidjo. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.

Zamroni. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Biograf Publishing, 2001.

 

 

 

 

 

About these ads

Mei 25, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: