Data Ufix

Just another WordPress.com weblog

SEHAT DENGAN DETOKSIFIKASI

ON LINE

RESEARCH

 

 

SEHAT DENGAN DETOKSIFIKASI

 

 

 

Disusun sebagai Tugas 3

Mata Kuliah TIK

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc

Ir. M. Adriyanto, MSM

 

Oleh  :

Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)

Program Studi : Manajemen Pendidikan

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

S E H A T

DENGAN DETOKSIFIKASI

 

 

 

 

1. APA ITU DETOKSIFIKASI?

 

Secara alamiah sebenarnya tubuh mempunyai kemampuan membersihkan sisa metabolisme melalui proses detosifikasi. Namun, proses detosifikasi kadang tak berjalan sempurna karena organ tubuh mengalami kemunduran fungsi.
Dijelaskan oleh Dr. Veronica N.K. Dewi Kalay, M. Biomed., dari Klinik Valentino Jakarta, tubuh akan terpapar racun bila kita mempunyai kebiasaan merokok, kecanduan alkohol, tergantung obat-obatan, kurang olahraga dan mudah stres. Juga jika kita sering mengonsumsi makanan yang diawetkan dan makanan cepat saji, serta kurang serat (seharusnya satu hari minimal lima porsi buah dan lima porsi sayuran). Kondisi malanutrisi karena sebab di atas mengakibatkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, sistem tubuh pun tidak berfungsi efisien. Akibatnya, tubuh didera berbagai penyakit. Misalnya, bila organ hati bekerja terlalu keras dan tidak efisien, penyakit kuning dan batu empedu akan terjadi.  Dr. Veronica menyebut detoksifikasi sebagai suatu proses eliminasi atau menetralkan racun (toksin) di dalam tubuh. Tindakan itu untuk membuang timbunan sampah sisa metabolisme yang terakumulasi di dalam tubuh selama bertahun-tahun.

Tujuan detoksifikasi adalah membersihkan toksin yang merusak sel-sel tubuh, memungkinkan atau memampukan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri, mengembalikan kendali fungsi dan keseimbangan alami organ tubuh secara optimal, menambah energi bagi tubuh untuk melakukan proses metabolisme dan memperbaiki setiap kerusakan yang terjadi. Juga untuk memperbaiki peredaran darah dan sistem kekebalan tubuh, memperbaiki sel yang rusak (revitalisasi) dan menjaga keseimbangannya, membangun sistem kekebalan tubuh, serta memperpanjang usia dan membuat awet muda. Dijelaskan Dr. Veronica, pada dasarnya toksin menyebabkan iritasi tubuh dan memberikan efek yang merusak. Racun tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh sehingga melemahkan elemenasi toksin, sistem kekebalan, sistem peredaran darah, merusak sistem pencernaan, sistem penyaringan dan sistem endokrin.

 

Tubuh memang mempunyai sistem detoksifikasi secara alamiah. Hati, misalnya, bertugas mengambil racun yang memasuki tubuh melalui makanan dan minuman, lalu mengubah ke dalam bentuk yang bisa digunakan oleh tubuh, menyimpan dengan aman atau membuangnya. Ginjal berfungsi dalam filtrasi sisa racun dari darah dan membuangnya dari tubuh dalam bentuk urin. Organ ini juga bertanggung jawab menjaga agar cairan di dalam tubuh berada dalam jumlah yang tepat. Namun, kemampuan tubuh mengatasi toksin kini mulai diragukan karena berbagai sebab. Dalam keadaan stres berkepanjangan, tubuh bisa mengalami gangguan pencernaan sehingga proses pengeluaran racun menjadi lamban dan pemrosesan produk sisa di dalam tubuh tidak efisien. Ketidakseimbangan tersebut akan menurunkan vitalitas dan menyebabkan gangguan tubuh yang makin parah.

Toksin bukan hanya ampas dari makanan yang kita makan dan makanan-makanan yang tidak tercerna, tetapi juga bisa berasal dari zat makanan aditif, udara tercemar, bahan kimia seperti pestisida, logam berat dalam air minum, residu obat-obatan farmasi, dll. Bahkan pikiran dan emosi negatif juga merupakan racun bagi sel-sel tubuh kita. Semua ampas atau zat yang tidak diperlukan tubuh akan diperlakukan sebagai racun (toksin) atau penyakit.  Ampas atau toksin juga diproduksi secara alamiah oleh tubuh kita sendiri. Ini merupakan proses metabolisme sehingga tidak dapat kita hindari. Setiap hari di dalam tubuh terjadi pembelahan sel-sel baru. Sementara itu sel-sel yang sudah tua akan menjadi aus, mati, dan menjadi ampas.  Dalam kondisi normal, ampas akan dikeluarkan secara teratur setiap hari melalui sistem pembuangan tubuh. Buang air besar setiap hari bukan jaminan bahwa proses pembuangan kita normal. Jika salah satu atau beberapa masalah tersebut merupakan keluhan Anda, berarti pengeluaran ampas dari tubuh Anda belum optimal! Penyakit terjadi apabila proses pembuangan tidak optimal dan toksin mulai merusak jaringan organ-organ vital.  Dalam sejumlah hasil penelitian disebutkan kondisi racun berlebihan (toxicity) erat hubungannya dengan penuaan dini, menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit degeneratif (liver, jantung, diabetes, kanker, dll.), dan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, racun harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Caranya, dengan detoksifikasi (detoks).  Detoksifikasi (detoks) adalah proses pengeluaran racun atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh. Puasa merupakan salah satu metode efektif detoksifikasi. Pembersihan dan detoks meningkatkan proses alamiah pengeluaran toksin dari dalam tubuh kita.

Organ vital yang menjadi target dalam program pembersihan racun yang efektif adalah susu besar (pengeluaran) dan liver (detoksifikasi).Hampir semua penyakit degeneratif dapat dihubungkan dengan kondisi keracunan dalam saluran usus (intestinal toxemia). Mengapa? Karena setiap jaringan dalam tubuh mendapatkan makanan dari darah, dan darah mendapatkannya dari usus. Setiap zat yang masuk ke dalam tubuh kita akan terserap ke dalam darah melalui dinding-dinding usus. Artinya, toksin yang berada usus juga akan ikut beredar bersama aliran darah sampai ke sel-sel di seluruh penjuru tubuh kita. Toksin-toksin inilah yang menyumbangkan terjadinya berbagai kondisi penyakit kronis, akut, dan degeneratif. Begitu juga menurunnya tingkat energi dan penuaan dini.  

  Baca lebih lanjut

Juni 21, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH “Sebuah Pendekatan dalam Pengelolaan Sekolah untuk Peningkatan Mutu Pendidikan”

MAKALAH

 

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU
BERBASIS SEKOLAH

Sebuah Pendekatan dalam Pengelolaan Sekolah
untuk Peningkatan Mutu Pendidikan

 

 

 

 

 

Tugas Individu

Mata Kuliah Landasan Pendidikan

(Dosen Pengampu : Prof. Dr. Dwi Nugroho Hidayanto, M.Pd)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

O l e h  :

 

Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)

Program Studi : Manajemen Pendidikan

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

ABSTRAK

 

 

Taufik Hidayat,

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH

Sebuah Pendekatan dalam Pengelolaan Sekolah untuk Peningkatan Mutu Pendidikan

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana Kependidikan, Universitas Mulawarman, 2008.

 

Kata Kunci : MBS, Iptek, Input-oriented, Kurikulum, Stake-holder, Sumber Daya

 

 

Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Adanya pemikiran bahwa harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking), ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management) atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut School Based Quality Improvement.

Konsekuensi dari pelaksanaan program ini adanya komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yaitu orang tua/masyarakat, guru, kepala sekolah, siswa dan staf lainnya di satu sisi dan pemerintah (Depdikbud) di sisi lainnya sebagai partner dalam mencapai tujuan peningkatan mutu.

Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan sekolah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut sekolah bersama-sama orang tua dan masyarakat menentukan visi dan misi sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan atau merumuskan mutu yang diharapkan dan dilanjutkan dengan penyusunan rencana program sekolah termasuk pembiayaannya, dengan mengacu kepada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah dan sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai.

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

Halaman

ABSTRAK  ………………………………………………………………………..      ii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………     iii

BAB I

 

 

BAB II

 

 

 

 

BAB III

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang  …………………………………………………….

2. Tujuan  ……………………………………………………………..

URAIAN

1. Pengertian MBS  ……………………………………………………

2. Pengertian Mutu  …………………………………………………..

3. Kerangka Kerja dalam MBS  ………………………………………

4. Strategi Pelaksanaan di Tingkat Sekolah  ………………………….

PENUTUP

1. Simpulan  …………………………………………………………..

2. Saran  ………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA  ………………………………………………..

 

1

3

 

5

8

9

12

 

16

17

18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1. Latar Belakang

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.

Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.

Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan ( sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri. Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa komleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.

Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas – batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement). Disamping itu mengingat sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya.

 Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini, kemudian dikenal dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management) atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut School Based Quality Improvement.

Konsep yang menawarkan kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing – masing ini, berkembang didasarkan kepada suatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber daya sekolah yang ada. Sekolah harus mampu menterjemahkan dan menangkap esensi kebijakan makro pendidikan serta memahami kindisi lingkunganya (kelebihan dan kekurangannya) untuk kemudian melaui proses perencanaan, sekolah harus memformulasikannya ke dalam kebijakan mikro dalam bentuk program – program prioritas yang harus dilaksanakan dan dievaluasi oleh sekolah yang bersangkutan sesuai dengan visi dan misinya masing – masing. Sekolah harus menentukan target mutu untuk tahun berikutnya. Dengan demikian sekolah secara mendiri tetapi masih dalam kerangka acuan kebijakan nasional dan ditunjang dengan penyediaan input yang memadai, memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan sumber daya yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan masyarakat.

  Baca lebih lanjut

Mei 25, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

HUBUNGAN PEMBINAAN, KOMPETENSI DENGAN KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI KABUPATEN KUTAI TIMUR

 

PROPOSAL THESIS

 

HUBUNGAN PEMBINAAN, KOMPETENSI

DENGAN KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI

KABUPATEN KUTAI TIMUR

 

 

 

 

Tugas Individu

Mata Kuliah Metode Penelitian

(Dosen Pengampu : Dr. Susilo, M.Pd)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Taufik Hidayat

NIM : 0805136149

Program Studi : Manajemen Pendidikan

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat Rahmat  Hidayah-Nya lah hingga proposal ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Proposal ini adalah salah satu syarat untuk membuat Thesis dan sebagai syarat utama dalam menyelesaikan perkuliahan program pasca sarjana (S2). Dalam penulisan proposal ini penulis sampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak dan Ibu pembimbing yang telah mencurahkan segenap tenaga dan waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyusun proposal ini .

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan proposal ini masih jauh dari sempurna, hal ini karena keterbatasan kemampuan penulis dalam penyusunan proposal ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dalam penyempurnaan penyusunan proposal ini.

Kepada rekan-rekan mahasiswa pasca sarjana kependidikan yang lain, penulis juga berharap agar saran dan kritik membangunnya dapat membantu saya dalam proses penyempurnaan proposal ini.

Atas kritik dan saran Bapak dan ibu pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa pasca sarjana kependidikan, saya  mengucapkan banyak terima kasih. Semoga hal ini menjadi amal jariah bagi bapak/ibu pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa sekalian, Amin.

 

 

 

Samarinda, 17 Mei 2008

 Penulis

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman

 

KATA PENGANTAR   ………………………………………………………           i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………          ii

BAB I              PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah …………………………………..            1

B.     Identifikasi Masalah ………………………………………             3

C.     Pembatasan Masalah ………………………………………           3

D.     Perumusan Masalah………………………………………..            4

E.      Kegunaan Penelitian ………………………………………             4

BAB II             KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS

A.  Diskripsi Teoritis …………………………………………..            5

1. Hakekat Kedisiplinan ……………………………………           5

2. Hakekat Pembinaan ……………………………………..           6

3. Hakekat Rencana Kerja …………………………………..        8

4. Hakekat Kompetensi …………………………………….          9

                        B.  Penelitian yang Relevan …………………………………..            12

                        C.  Kerangka Berfikir …………………………………………          12

                        D.  Pengajuan Hipotesis ………………………………………           15

BAB III            DESAIN PENELITIAN

                        A.  Tujuan Penelitian ………………………………………….           16

                        B.  Tempat Dan Waktu Penelitian ……………………………….           16

                        C.  Metode Penelitian …………………………………………          16

                        D.  Teknik Pengambilan Sampel ………………………………           17

                        E.  Instrumen Penelitian ………………………………………            18

                        F.  Teknik Pengumpulan Data ………………………………..            23

                        G.  Teknik Analisa Data ………………………………………           23

                        H.  Hipotesis Statistik …………………………………………          25

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………         26

BAB I   

 PENDAHULUAN

 

 

 

A. Latar Belakang Masalah

 

            Pendidikan sebagai ujung tombak kemajuan bangsa harus mendapat perhatian yang serius dari semua pihak, terutama pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Kemajuan pendidikan merupakan cerminan kemajuan suatu bangsa dan negara.

            Melalui pendidikan akan dicetak manusia-manusia Indonesia yang berkualitas, manusia Indonesia yang berbudi luhur dan berilmu pengetahuan yang tinggi. Kualitas pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula. Dalam bidang pendidikan diharapkan munculnya sumber daya manusia yang mempunyai sumber daya tinggi, bertanggung jawab, dan mengerti tugasnya.

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan     mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.1

            Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab negara, dan pelaksanaan diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan, baik formalmaupun non formal. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut, dalam menyelenggarakan pendidikan tetap mengacu pada aturan-aturan pemerintah pusat  sebagai konsekuensi dari sistem sentralisasi. Seiring mulai diberlakukannya sistem otonomi daerah yang imbasnya juga akan dirasakan dalam bidang pendidikan. Sekolah diberi kesempatan untuk mengatur rumah tangganya sendiri.

Dengan pemberian otonomi sekolah, semua personal yang terlibat dalam pendidikan terutama guru sebagai pelaksana pendidikan, harus kreatif dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tuganya, terutama lebih meningkatkan kedisiplinan. Disiplin merupakan jalan menuju sukses.

Berdasarkan pengamatan penulis, di lapangan masih banyak ditemukan guru yang melaksanakan tugasnya dengan disiplin yang rendah. Wujud dari ketidak disiplinan guru antara lain: guru sering tidak hadir di sekolah, guru datang terlambat dan pulangnya lebih cepat, guru tidak disiplin dalam memberi nilai, juga tidak disiplin dalam penyusunan perangkat pembelajaran.

Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Diknas Kaltim Asnawi, dalam Arah Pendidikan kaltim Belum Jelas. Mugni menekankan bahwa belum ada kesatuan sikap mengenai penindakan terhadap guru-guru yang tidak melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan Mugni berhadapan dengan pengadilan karena akan membenahi disiplin guru.

Dari uraian diatas menunjukan bahwa disiplin guru dalam melaksanakn tugasnya masih rendah. Sebagai seorang guru yang mempunyai tugas mendidik siswa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnyamempunyai kesadaran berdisiplin yang tinggi untuk memikul tugas mulia tersebut.

Kesadaran berdisiplin yang rendah merupakan salah satu bukti pelanggaran kedinasan. Untuk mencegah pelanggaran tersebut pihak atasan harus mengontrol, dan yang paling penting adalah contoh kepada bawahan, sehingga perilaku disiplin dapat menjadi budaya yang patut dibanggakan.

            Banyak hal yang dapat menyebabkan guru menjadi tidak disiplin. Antara lain kesejahteraan guru yang kurang memadai. Guru lebih mengutamakan mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Sehingga ia melaksanakan kewajibannya sebagai guru hanya sekedarnya saja. Selain itu bisa juga karena guru tidak siap atau kehilangan kewibawaannya di depan anak didik, sehingga guru menjadi malas untuk masuk kelas. Ketidakdisiplinan guru dapat berakibat ke siswa, sehingga siswa juga ikut tidak disiplin.

            Penerapan disiplin nasional secara tuntas dan konsekuen haruslah dilaksanakan di dalam setiap lingkungan pendidikan, baik formal maupun non formal. Pelaksanaan displin di lingkungan formal mencakup pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.

 

B. Identifikasi Masalah

 

            Sesuai dengan uraian yang telah penulis paparkan pada latar belakang, dapat diketahui bahwa masalah utama yang sangat mendesak untuk dikaji adalah masalah kedisiplinan guru. Dari kedisiplinan guru dapat dilihat sumber daya manusia pendidikan yang ada. Sepandai-pandainya seorang guru, kalau ia tidak disiplin, dapat dipastikan kalau program kerja yang telah disusun tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Apabila program kerja tidak dapat dilaksanakan berarti tujuan pendidikan tidak dapat dicapai.

            Kedisiplinan guru tidak dapat dipisahkan dengan pembinaan dari kepala sekolah. Antara kepala sekolah dan guru harus ada kata sepakat untuk bersikap disiplin. Dari masalah-masalah di atas, dapat diidentifikasi sebagai berikut: Apakah guru sudah mempunyai kedisplinan yang tinggi untuk melaksanakan tugasnya? Mungkinkah sikap disiplin dapat seiring dengan pengembangan sumber daya manusia? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kedisiplinan guru? Bagaimana meningkatkan kedisplinan guru? Apakah pengaruh kedisiplinan guru bagi siswa? Hambatan-hambatan apa yang disebabkan karena guru tidak disiplin? Sebarapa tinggi disiplin guru menghambat dalam pengembangan kompetensinya? Seberapa jauh kepala sekolah membina disiplin guru?.

 

C. Pembatasan Masalah

 

            Dari sejumlah identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah pada: pembinaan dari kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.

            Pembahasan ini penulis lakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan terperinci dari masalah-masalah tersebut.

 

  Baca lebih lanjut

Mei 25, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PERSPEKTIF TIK DALAM PEMBANGUNAN

MAKALAH

 

 

P E R S P E K T I P

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBANGUNAN

DI INDONESIA

 

 

 

 

Tugas Kelompok

Mata Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi

(Dosen Pengampu : Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc)

 

 O l e h  :

 

Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)

Program Studi : Manajemen Pendidikan

 

 

 

 

PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 

A. Latar Belakang

 

Dewasa ini, dampak positif dan negatif perkembagan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah semakin terasa dalam segala aspek kehidupan.
Perkembangan ini telah mendorong percepatan globalisasi. Dengan kata lain, aspek jarak dan waktu menjadi relatif dekat dan singkat. Pemerintah memiliki peran penting dalam mengawal arah globalisasi ini ke arah yang positif untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Gabungan teknologi dan globalisasi juga menghasilkan cara-cara baru untuk beradaptasi, berinovasi dan tumbuh dalam perubahan dunia kita. Potensi kombinasi dari konektivitas, kolaborasi,akses dan transparansi adalah penting. Pemerintah dan perusahaan diseluruh dunia harus memegang potensi tersebut. Keterbukaan membantu pemerintah, perusahaan dan individu untuk merespon penambahan kebutuhan dari permintaan yang begitu
cepat. Keterbukaan akan mempengaruhi komunitas TIK dan menjadi pendorong untuk melakukan penemuan baru, pembangunan sosial dan meningkatkan peluang pasar.

 Dengan kondisi pada saat ini Indonesia harus menghadapi paradigma baru yang terjadi pada teknologi dan jasa TIK yang meliputi telekomunikasi, infokom dan penyiaran. Paradigma baru tersebut yaitu:  Pertama, Indonesia tidak akan terhindar dan pengaruh berubahnya lingkungan global dan terjadinya “ekonomi digital”. Hal ini akan membenikan dampak terhadap semua aspek kehidupan bangsa.  Kedua, Abad 21 akan ditandai oleh fenomena era informasi melalui multimedia yang didorong oleh kemajuan sangat cepat disertai konvergensi dalam teknologi telekomunikasi, teknologi informasi dan teknologi penyiaran. Ketiga, konvergensi merubah value chain yang tadinya terpisah antara ketiga bidang tersebut menjadi satu value chain untuk ketiga bidang ini, bahkan dapat ditemukenali bahwa bidang “publishing” berubah menjadi salah satu aplikasi mulimedia elektronik yang menyerupai penyiaran (broadcasting).

Perkembangan paradigma baru diatas dibarengi dengan gerak deregulasi yang sangat mendasar, yaitu yang sangat dahsyat adalah di bidang finance, transportasi dan telekomunikasi. Kemudian paradigma diatas menuntut teknologi tinggi, investasi besar dan mutu / kemampuan SDM yang prima untuk dapat bertahan hidup (survive). Oleh karena itu, dalam menghadapi perkembangan paradigma baru ini maka pemerintah dan masyarakat Indonesia harus menyadani implikasi kecenderungan di awal abad 21, dan seyogyanya bersama-sama benikhtiar merealisasikan “masyarakat informasi Indonesia”. Kemudian dalam membangun masyarakat informasi perlu disusun pola, kebijaksanaan dan langkah “sinergi” antara pemerintah dan pelaku-pelaku TIK, serta antar pelaku TIK. Selain itu, industri manufaktur, jasa kontraktor, dan jasa konsultan disamping meneruskan produksi juga berkiprah pada “traditional items” (yang harus diarahkan kepada ekspor), seyogyanya dikembangkan kemampuan dalam produk-produk yang menunjang terwujudnya “information society” perangkat keras dan lunak. Dalam rangka memberikan arah dalam pembangunan TIK di Indonesia maka perlu dibuat roadmap (peta jalan) implementasi TIK. Roadmap ini akan memberi gambaran kondisi TIK Indonesia pada saat ini dan yang akan di capai di masa depan.

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.

Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

  Baca lebih lanjut

Mei 18, 2008 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

KURIKULUM PENDIDIKAN

 

MAKALAH

 

KURIKULUM PENDIDIKAN

 

 

O l e h  :

 Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)

Program Studi : Manajemen Pendidikan

  

PRORAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

 

 

 

 

 

  

KURIKULUM PENDIDIKAN

 

ABSTRAK

  Kelompok                    :  VII (Taufik. H, Aliman, Sukapdi, Sahman)

Judul Makalah              :  KURIKULUM PENDIDIKAN

                                         Hakikat Kurikulum

                                         Perubahan Kurikulum

                                         Keluwesan Pengembangan Kurikulum

 

    Wajah kurikulum Nasional harus berpatokan pada empat pilar pendidikan.   Tujuannya, agar anak didik dapat bersaing di era global. Unesco (1996) merekomendasikan pendidikan di dunia harus bertumpu pada empat pilar.

Yaitu :  1) learning to know (anak belajar untuk mengetahui dan memahami),

 2) learning to do (anak belajar untuk melalukan sesuatu),

 3) learning to live together (anak belajar hidup bersama dengan orang lain),

 4) learning to be (anak belajar independen).

Apapun wajah kurikulumnya bila berpijak pada empat pilar ini kelak akan lahir anak didik yang bermutu. Tidak ada masalah bila kurikulum bergonta-ganti setiap lima tahun sekali. Hal ini dikarenakan selama lima tahun kehidupan mulai berubah dan saat itu anak harus dilatih kesiapannya menghadapi perubahan.

Kurikulum sesuai kapasitasnya sebagai kegiatan perencanaan dalam pendidikan pada dasarnya akan membawa manusia bersikap modern, karena proses pendidikan berarti modernitas dalam nilai, sikap dan perilaku yang diwarnai dengan sikap kreatif, inovatif dan kontributif.

 

 

A. Pendahuluan

 

 Wajah kurikulum nasional harus berpatokan pada empat pilar pendidikan.   Tujuannya, agar anak didik dapat bersaing di era global. Unesco (1996) merekomendasikan pendidikan di dunia harus bertumpu pada empat pilar. Yaitu, learning to know (anak belajar untuk mengetahui dan memahami), learning to do (anak belajar untuk melalukan sesuatu), learning to live together (anak belajar hidup bersama dengan orang lain), dan learning to be (anak belajar independen). Apapun wajah kurikulumnya bila berpijak pada empat pilar ini kelak akan lahir anak didik yang bermutu. Tidak ada masalah bila kurikulum bergonta-ganti setiap lima tahun sekali. Hal ini dikarenakan selama lima tahun kehidupan mulai berubah dan saat itu anak harus dilatih kesiapannya menghadapi perubahan.

Kurikulum ada dua, yaitu kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang berlaku secara lokal. Kurikulum tingkat nasional lebih sederhana dari kurikulum yang ada di tiap wilayah lokal. Gurulah yang harus kreatif menggagas strategi pengajaran.

Apa yang disebut MGMP di Indonesia justru benar-benar dipraktikkan dalam proses kependidikan di AS. Saat ada pergantian kurikulum guru-guru berkumpul dan membahas pola apa yang akan dilaksanakan dalam mengajar. Kalau dilihat di Indonesia, MGMP belum berfungsi secara oftimal. Guru harus mengerti hakikat kurikulum dan belajar lebih giat dan jangan sampai murid lebih pintar dari gurunya. Ini berbahaya di dunia pendidikan. Apalagi sekarang murid akrab dengan internet, guru diharapkan untuk lebih kreatif.

  Baca lebih lanjut

Mei 18, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

IMPLEMENTASI KONSEP MBS DI SEKOLAH

ARTIKEL

 

 

IMPLEMENTASI KONSEP

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

DI SEKOLAH

 

 

 

 

 

 

O l e h  :

 Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)

Program Studi : Manajemen Pendidikan

 

PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

 ABSTRAK                Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi agenda penting pemerintah (depdiknas) beberapa tahun terakhir menyusul hasil penilaian internasional, seperti PISA 2003 (Programme for International Student Assessment) dan TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciences Study), yang menempatkan Indonesia pada posisi buntut dalam hal mutu pendidikan.               Setidaknya ada empat kebijakan strategis yang bisa dilakukan. Pertama, perlunya dilakukan semacam ujian nasional bagi semua guru dari tingkat SD sampai SMA. Kedua, perlunya kebijakan persebaran guru-guru berkualitas. Ketiga, sebagai jangka panjang, perlu dilakukan strategi untuk mencari bibit unggul dalam profesi keguruan. Keempat, pemerintah juga perlu melakukan restrukturisasi menyeluruh terhadap lembaga-lembaga keguruan di tanah air, terutama dari segi rekruitmen mahasiswanya, sehingga jaminan kualitasnya semakin unggul dan bisa dipertanggungjawabkan.               Pada tahun 1980-an, telah diujicobakan model pembelajaran Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Akhir-akhir ini, kita mencoba pendekatan model pembelajaran “joyful learning” atau yang lebih dikenal dengan model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Efektif dan Menyenangkan). Dari berbagai pengalaman yang amat berharga tersebut, dapat disimpulkan bahwa apapun konsep yang diterapkan di sekolah akan sangat bergantung kepada sekolah dan seluruh stakeholder pendidikan yang ada di sekolah. Itulah sebabnya, maka kebijakan dan program yang sedang dan akan diluncurkan harus dimulai melalui upaya pemberdayaan sekolah dan masyarakat sebagai pemilik dan ujung tombak pendidikan.               Peningkatan mutu pendidikan melalui MBS ini berlandaskan pada asumsi bahwa sekolah/madrasah akan meningkat mutunya jika kepala sekolah bersama guru, orangtua siswa dan masyarakat setempat diberi kewenangan yang cukup besar untuk mengelola kegiatannya sendiri. Pengelolaan ini meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan pembinaan, baik dalam hal keuangan maupun pembelajaran secara umum. Bukankah upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan akumulasi dari upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah.               Tujuan program Manajemen Berbasis Sekolah adalah (1) mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru, unsur komite sekolah/mejelis madrasah dalam aspek manajemen berbasis sekolah untuk peningkatan mutu sekolah, (2) mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru, unsur komite sekolah/majelis madrasah dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat setempat, (3) mengembangkan peran serta masyarakat yang lebih aktif dalam masalah umum persekolahan dari unsur komite sekolah dalam membantu peningkatan mutu sekolah.  Kata Kunci : Ujian Nasional, Kurikulum, MBS, inovasi, PAKEM

 

 

I. PENDAHULUAN

 

Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi agenda penting pemerintah (depdiknas) beberapa tahun terakhir menyusul hasil penilaian internasional, seperti PISA 2003 (Programme for International Student Assessment) dan TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciences Study), yang menempatkan Indonesia pada posisi buntut dalam hal mutu pendidikan. Lebih dari itu, laporan terkini dari UNDP tentang Indeks Pembangunan Manusia tahun 2006 juga masih menempatkan Indonesia pada ranking ke-108 dari 177 negara, jauh di bawah negara-negara tetangga, seperti Singapura (25), Brunei Darussalam (34), dan Malaysia (61).Berbagai terobosan dan kebijakan penting telah diambil oleh depdiknas dalam rangka meningkatkan akses pendidikan yang merata dan bermutu sejalan dengan komitmen yang digariskan oleh UNESCO melalui program Education for All (EFA).

Ujian Nasional (UN) yang belum lama ini kembali digelar oleh depdiknas dan kebijakan perubahan kurikulum dari kurikulum 1994 ke KBK, dari KBK ke KTSP adalah bagian penting dari terobosan penting itu. Sejauhmana kebijakan-kebijakan tersebut mampu meningkatkan mutu pendidikan?Alih-alih menjadi strategi peningkatan mutu pendidikan, kebijakan UN sesungguhnya telah mengaburkan hakikat pendidikan bermutu. Parameter kebermutuan pendidikan tidak lagi didasarkan pada kebermaknaan individu dalam berperan di dalam kehidupan masyarakat, melainkan melulu didasarkan pada sejauhmana peserta didik mampu mensiasati sederetan soal dalam UN.Lebih dari itu, kebijakan UN tidak lagi berpihak pada kepentingan siswa, tetapi lebih banyak mendukung kepentingan kekuasaan. Hasil UN setidaknya bisa menjadi alat legitimasi pemerintah untuk mengklaim peningkatan mutu pendidikan yang pada gilirannya bisa menjadi nilai tawar tersendiri bagi pemerintah di mata dunia internasional. Di sinilah, makna kualitas pendidikan telah dimonopoli sedemikian rupa oleh kepentingan pemerintah dan bahkan kepentingan global.

Penerapan UN sebagai salah satu resep peningkatan mutu pendidikan mencerminkan sebuah kebijakan yang tidak didasarkan pada akar persoalan pendidikan yang sebenarnya. Problem utama merosotnya mutu pendidikan sebenarnya tidak disebabkan oleh lemahnya sistem evaluasi dan kurikulum, melainkan terletak pada rendahnya kualitas guru secara umum dan tidak meratanya persebaran guru-guru profesional.Menurut laporan Balitbang Depdiknas, misalnya, hanya sekitar 30 persen dari keseluruhan guru tingkat SD di Indonesia yang mempunyai kualifikasi untuk mengajar.

Hal yang sama juga terjadi di satuan pendidikan menengah, terutama di lingkungan madrasah. Data Departemen Agama (2006) menyebutkan bahwa sekitar 60% guru madrasah tidak mempunyai kualifikasi mengajar. Inilah sebenarnya akar persoalan pendidikan kita.Namun, seperti yang kita lihat, selama ini kebijakan pemerintah dalam upaya perbaikan mutu pendidikan belum sepenuhnya didasarkan pada akar persoalan di atas. Malah, pemerintah cenderung sibuk dengan kebijakan “salah resep”, seperti penerapan UN dan perubahan kurikulum yang sebenarnya belum terlalu mendesak untuk dilakukan. Terkait dengan kebijakan perubahan kurikulum, penting dicatat bahwa inovasi kurikulum tanpa didukung oleh ketersediaan guru yang mumpuni yang notabene sebagai agen pelaksana kurikulum di kelas malah hanya akan semakin membuat runyam mutu pendidikan. Padahal kalau kita mau belajar dari keberhasilan model pendidikan Finlandia yang berdasarkan laporan PISA 2000 dan 2003 menempatkan negara welfare state itu pada ranking pertama dalam hal ketercapaian kompetensi aplikatif siswa berumur 15 tahun dalam bidang literasi dan numerasi, justru faktor inovasi kurikulum, sebagaimana dikatakan Simola (2005), tidak berperan signifikan dalam menunjang keberhasilan pendidikan di Finlandia. Ketersediaan guru yang kompeten lah sebenarnya yang merupakan kunci sukses pendidikan di negara tersebut.

  Baca lebih lanjut

Mei 18, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

STRUKTUR PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH

A. PENDAHULUAN

 

Istilah karya ilmiah digunakan untuk sebuah tulisan yang mendalam sebagai hasil mengkaji dengan metode ilmiah. Dalam hal ini bukan berarti bahwa tulisan itu selalu berupa hasil penelitian ilmiah. Sebagai contoh tulisan yang berupa petunjuk teknik atau bahkan cerita pengalaman nyata dan pengalaman biasa, yang bukan hasil penelitian ilmiah tetapi disajikan dalam bentuk yang mendalam sebagai hasil ilmiah. Itulah sebabnya tulisan tentang bagaimana bercocok tanam jagung, pemeliharaan ikan bandeng, proses pembuatan es, dapat disajikan secara ilmiah.

Sedangkan istilah tulisan ( karya tulis) dimasukkan, untuk menyatakan karangan yang disusun berdasarkan ide penulisnya yang diperkuat oleh data serta pernyataan dan gagasan orang lain. Itulah sebabnya kita mengenal istilah penulis. Dalam hal ini harus dibedakan antara penulis dengan pengarang. Penulis di samping mengungkapkan ide yang terkandung di dalam dirinya, dapat juga ide tersebut didukung oleh gagasan dan pernyataan orang lain, bahkan kadang-kadang penulis hanya mengkombinasikan pendapat dari banyak orang, serta didukung oleh informasi yang diolah dalam bentuk baru dan utuh.

Ciri khas sebuah karya tulis yang disusun berdasarkan metode ilmiah ialah keobyektifan pandangan yang dikemukakan, dan kedalaman makna yang disajikan. Keobyektifan dan kedalaman, dua hal yang senantiasa diusahakan agar tulisan dapat dirasakan ilmiah. Sedangkan pengarang semata-mata mengungkapkan pernyataan dan pendapat berdasar ide yang mencuat dari dalam dirinya, tanpa didukung oleh data dan informasi yang jelas. Baca lebih lanjut

Mei 17, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Mei 17, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar