Data Ufix

Just another WordPress.com weblog

KURIKULUM PENDIDIKAN

 

MAKALAH

 

KURIKULUM PENDIDIKAN

 

 

O l e h  :

 Taufik Hidayat (NIM. 0805136149)

Program Studi : Manajemen Pendidikan

  

PRORAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2008

 

 

 

 

 

 

  

KURIKULUM PENDIDIKAN

 

ABSTRAK

  Kelompok                    :  VII (Taufik. H, Aliman, Sukapdi, Sahman)

Judul Makalah              :  KURIKULUM PENDIDIKAN

                                         Hakikat Kurikulum

                                         Perubahan Kurikulum

                                         Keluwesan Pengembangan Kurikulum

 

    Wajah kurikulum Nasional harus berpatokan pada empat pilar pendidikan.   Tujuannya, agar anak didik dapat bersaing di era global. Unesco (1996) merekomendasikan pendidikan di dunia harus bertumpu pada empat pilar.

Yaitu :  1) learning to know (anak belajar untuk mengetahui dan memahami),

 2) learning to do (anak belajar untuk melalukan sesuatu),

 3) learning to live together (anak belajar hidup bersama dengan orang lain),

 4) learning to be (anak belajar independen).

Apapun wajah kurikulumnya bila berpijak pada empat pilar ini kelak akan lahir anak didik yang bermutu. Tidak ada masalah bila kurikulum bergonta-ganti setiap lima tahun sekali. Hal ini dikarenakan selama lima tahun kehidupan mulai berubah dan saat itu anak harus dilatih kesiapannya menghadapi perubahan.

Kurikulum sesuai kapasitasnya sebagai kegiatan perencanaan dalam pendidikan pada dasarnya akan membawa manusia bersikap modern, karena proses pendidikan berarti modernitas dalam nilai, sikap dan perilaku yang diwarnai dengan sikap kreatif, inovatif dan kontributif.

 

 

A. Pendahuluan

 

 Wajah kurikulum nasional harus berpatokan pada empat pilar pendidikan.   Tujuannya, agar anak didik dapat bersaing di era global. Unesco (1996) merekomendasikan pendidikan di dunia harus bertumpu pada empat pilar. Yaitu, learning to know (anak belajar untuk mengetahui dan memahami), learning to do (anak belajar untuk melalukan sesuatu), learning to live together (anak belajar hidup bersama dengan orang lain), dan learning to be (anak belajar independen). Apapun wajah kurikulumnya bila berpijak pada empat pilar ini kelak akan lahir anak didik yang bermutu. Tidak ada masalah bila kurikulum bergonta-ganti setiap lima tahun sekali. Hal ini dikarenakan selama lima tahun kehidupan mulai berubah dan saat itu anak harus dilatih kesiapannya menghadapi perubahan.

Kurikulum ada dua, yaitu kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang berlaku secara lokal. Kurikulum tingkat nasional lebih sederhana dari kurikulum yang ada di tiap wilayah lokal. Gurulah yang harus kreatif menggagas strategi pengajaran.

Apa yang disebut MGMP di Indonesia justru benar-benar dipraktikkan dalam proses kependidikan di AS. Saat ada pergantian kurikulum guru-guru berkumpul dan membahas pola apa yang akan dilaksanakan dalam mengajar. Kalau dilihat di Indonesia, MGMP belum berfungsi secara oftimal. Guru harus mengerti hakikat kurikulum dan belajar lebih giat dan jangan sampai murid lebih pintar dari gurunya. Ini berbahaya di dunia pendidikan. Apalagi sekarang murid akrab dengan internet, guru diharapkan untuk lebih kreatif.

 

B. Hakikat Kurikulum

 

Mengapa pembelajaran memerlukan kurikulum, hal dikarenakan pembelajaran seperti halnya kegiatan yang lain memerlukan perencanaan. Makin baik dan sistematis perencanaannya, diharapkan makin baik pula hasilnya dan makin efektif serta bermaknalah pembelajaran tersebut. Karena pada dasarnya kurikulum merupakan seperangkat rencana, dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pada dasarnya kurikulum merupakan rencana kegiatan dan pengalaman yang diperlukan siswa sebagai sarana untuk membantu dan memfasilitasinya dalam mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Pada masa lalu kelemahan kurikulum nasional di Indonesia diatasi dengan sisipan substansi Muatan Lokal, termasuk penggunaan bahasa ibu pada kelas awal di sekolah dasar, tetapi muatan nasional tetap dominan karena ada ujian nasional, yang harus dikejar oleh siswa dan guru bahkan juga orangtua siswa, karena menyangkut nasib dan harga diri.

Lalu bagaimana kiat mengatasi kelemahan yang ada, ditambah lagi saat ada isu atau rencana perubahan kurikulum biasanya kita resah dan gelisah, membayangkan berbagai dampak dan konsekuensinya, yang memang nyata ada, baik yang menyangkut segi administratif maupun teknis edukatif yang tak pelak lagi akan menambah kesibukan dan kerepotan guru serta insan pendidikan lainnya. Padahal pada kurun waktu tertentu kurikulum memang harus disesuaikan dengan perkembangan kehidupan “masa kini”. Setiap perubahan sekecil apapun selalu ada konsekuensi logisnya bagi guru, lalu bagaimana agar kita tidak resah dan gelisah menghadapi perubahan tersebut?

Pertama, harus disadari sepenuhnya hakekat kurikulum seperti diuraikan di atas, kurikulum sebenarnya hanyalah seperangkat rencana, yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa kebijakan dan kebajikan pelaksananya. Betapapun bagusnya kurikulum disusun oleh pakar yang sangat ahli sekalipun, bahkan hasil penelitian bertahun-tahun, kalau berada ditangan guru yang kurang piawai, tidak banyak manfaatnya dalam pembelajaran, sebaliknya kurikulum yang bersifat standar dan hanya berisi garis besar rencana pembelajaran, tetapi dikelola oleh guru yang handal akan dapat memfasilitasi pembelajaran yang sangat efektif dan bermakna bagi pembelajarnya. Jadi ternyata unsur siapa yang melaksanakan kurikulum, sangat berperan.

Kedua, dalam pembelajaran kurikulum bukan satu-satunya sumber belajar. Ada yang disebut sebagai The Hidden Curriculum, kurikulum yang tersamar, atau kurikulum yang tidak nyata tertulis. The hidden Curriculum, merupakan semua hal yang menstimulir anak dan anak meresponnya, merupakan hal di luar kurikulum formal serta mempunyai dampak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya, tata tertib dan peraturan sekolah/kelas, lingkungan sekitar baik fisik maupun sosial, performance guru dan warga sekolah lainnya, guru merupakan kurikulum yang sangat efektif bagi siswa, apapun yang dilakukan guru, cara berpakaian, cara bicara, sikap terhadap guru lain merupakan kurikulum bagi siswa, ada lagi The hiden curriculum yang sangat efektif, yaitu tayangan televisi, juga merupakan kurikulum bagi siswa, semua itu akan membentuk sikap dan kepribadiannya, membentuk persepsi terhadap lingkungan masyarakatnya, kemudian merespon, dan mempengaruhi tumbuhkembangnya. Jadi guru masa kini harus berpacu dengan kurikulum lain tersebut di atas, yang relatif lebih efektif dibanding kurikulum formal yang telah ditetapkan. Kurikulum mengarahkan pada hidup rukun dan saling tolong menolong, tetapi dalam kehidupan nyata dan dalam tayangan televisi misalnya anak setiap saat melihat orang berkelahi saling menjatuhkan satu sama lain, dan sebagainya. Kurikulum mengisyaratkan hidup tertib dan bersih, tetapi lingkungan sekolahnya sendiri kumuh dan gurunya sering terlambat, misalnya.
Secara sederhana sebenarnya pendidikan bagi siswa adalah apa yang dia lihat, dia dengar, dia rasakan, dia alami, setiap detik, sepanjang hari sepanjang tahun, itulah yang akan membentuk karakter dan kepribadiannya.
Tugas kita adalah memfasilitasi agar apa yang dia dengar, dia lihat, dia rasakan dan dia alami adalah hal-hal yang positif semata.

Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, ditetapkan juga Badan Standar Nasional Pendidikan (pada bab Xl, pasal 73) yang merupakan badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan. Lingkup Standar nasional pendidikan adalah :

(1) Standar Isi,

(2) Standar Proses,

(3) Standar Kompetensi Lulusan,

(4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan,

(5) Standar Sarana dan Prasarana,

(6) Standar Pengelolaan,

(7) Standar Pembiayaan dan

(8) Standar Penilaian Pendidikan.

Secara sederhana jika standar isi sudah ditetapkan, maka kurikulum akan disusun dan dikembangkan sendiri oleh sekolah, berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi.

 

C. Perubahan Kurikulum

 

            Perkembangan ilmu dan teknologi hampir selalu terkait dengan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan serta sesuai dengan perubahan kemajuan masyarakat dan bangsa. Jika tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa sedang tinggi dan stabil dalam jangka waktu yang relatif lama, maka biasanya akan selalu terjadi kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sisi lain kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menimbilkan masalah-masalah baru, karena pertumbuhannya tidak hanya semata ditentukan oleh ketersediaan sarana dan kesempatan dalam suasana kemakmuran dan kesejahteraan melainkan juga kebiasaan dan kemampuan berpikir kreatif harus ada sebagai prasyarat untuk tumbuh dan kembangkan ilmu pengetahuan dan teknologididalam statu masyarakat bangsa. Disetiap negara berkembang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu tumbuh dan berkembanng melalui proses secara seketika sebelum tatanan selesai dipersiapkan atau dibenahi dan sebelum sumber daya  manusai mampu menerima dan menyesuaikan diri (Miarso, 1988). Untuk menghadapi masalah dan tantangan yang berat ini, Indonesia sebagaimana negara berkembang lanilla, melakukan usa-usaha pengembangan koalitas sumber daya manusia melalui prose pendidikan tertentu.

            Bertitik tolak dari dua sisi yang bebeda, maka perkembangan pendidikan dan pengembangan budaya manusia akan menimbulkan kesenjangan, yaitu terjadinya jarak antara apa yang diharapkan oleh program pendidikan dengan kenyataan apa yang terjadi di dalam masyarakat. Isi kurikulum memuat program-program pendidikan dan pengajaran yang dirancang untuk jangka waktu tertentu, seperti yang dilansir oleh Nicholls & Nicholls (1974:11) bahwa kurikulum hádala : all the oportunities planned by the teachers for pupils sehingga dalam waktu tertentu, memungkinkan program pendidikan dan pengajaran dalam kurikulum ditinjau kembali keberadaannya. Peninjauan kembali dimaksudkan untuk memodifikasi, mengganti atau untuk dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

            Isi kurikulum perlu perubahan, hal ini sejalan dengan konsep cycling process (Nicholls & Nicholls 1974) yang terdiri Objectives, method dan materials, assessment dan feedback. Keempat langkah dimaksud : 1) Objectives, sasaran hasil relajar dapat menggambarkan tingkat penguasaan sesuai dengan tujuan bidang studi. 2) Method and Materials, agar menetapkan pilihan metode dan bahan yang paling dekat dan sesuai dengan pendidikan atau tujuan pendidikan yang diharapkan. 3) Assessment, menentukan pengembangan verja untuk mencapai tujuan. 4) Feedback, dari hasil pengalaman sebelumnya dikembangkan untuk permulaan relajar berikutnya, sehingga penggambaran pengembangan kurikulum yang melingkar, menunjukkan bahwa isi kurikulum selamanya tidak akan hermanen, tetapi mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.

            Dikatakan bahwa isi kurikulum berperan membimbing dan memandu perubahan, hal ini sejalan dengan 3 dasar pemikiran (Hidayanto, 2007) : Pertama, kurikulum  merupakan salah satu komponen dari sub-sistem sekolah. Kedua, kurikulum membawa misi pendidikan socuo-civics dan socio-culture melalui generasi muda. Ketiga, dalam Pendidikan Nasional, terkandung tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia yang mampu menumbuhkan da memperdalam rasa cinta tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.

 

D. Pengembangan Kurikulum

 

            Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.

 

1. Landasan Filosofis

 

a) Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

b) Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

c) Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?

d) Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

e) Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

 

2. Landasan Psikologis

 

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.

Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :

b) bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.

c) konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;

d) pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan

e) keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.

Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu :

(1) perbedaan tingkat kecerdasan;                 

(2) perbedaan kreativitas;

(3) perbedaan cacat fisik;

(4) kebutuhan peserta didik; dan   

(5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.

 

3. Landasan Sosial-Budaya

 

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.

Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.

Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat. Israel Scheffer (Sukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.

Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

 

Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.. Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Pembangunan pendidikan diarahkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia serta kualitas sumber daya manusia Indonesia dan memperluas serta meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan termasuk di daerah terpencil. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan koalitas dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pembaharuan kurikulum sesuai dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan zaman dan tapan pembangunan, serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.

Secara umum dapat diamati bahwa dengan kurikulum yang berlaku sekaranng, maka anak-anak kota besar akan lebih banyak memperoleh manfaat karena sumber daya alam di kota, seperti : radio, televisi, telepon, komputer dan berbagai media lainnya banyak membantu, sementara anak-anak di desa dan kota kecil kurang memperoleh manfaatnya. Gejala di atas mempercepat arus komunikasi/informasi dan globalisasi yang menyangkut semua aspek kehidupan, terutama dalam bidang ilmu dan teknologi (Kamars, 1992:4).

            Sejak dulu teknologi telah diterapkan dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sedehana, seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta. Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang digunakan adalah teknologi modern dan canggih, seperti : audio, video casette, OHP, film slide, motion film, komputer dan lain-lain (Sukmadinata, 1988:103). Lebih lanjut Sukmadinata (1988) mengatakan bahwa peranan teknologi dalam pendidikan khususnya kurikulum dan pengajaran ada dua bentuk, yaitu dalam bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tolls technology) sedangkan teknologi prangkat lunak disebut teknologi sistem (system echnology).

            Dewasa ini di Indonesia terdapat sejumlah media komunikasi massa yang berpengaruh dalam bidang pengembangan kurikulum pendidikan yang perkembangannya sudah cukup maju dan dapat menjangkau hampir seluruh pelosok tanah air.Media komunikasi massa tersebut adalah surat kabar, majalah, radio dan televisi. Diantara keempat komunikasi massa tersebut yang paling luas jangkauannya adalah radio. Urutan kedua yang cukup luas jangkauannya adalah televisi. Perkembangan transportasi juga turut berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum pendidikan, dimana dengan adanya transportasi mempermudah hubungan baik lokal, antar kota, antar pulau maupun antar negara, menyebabkan terbukanya hubungan dengan daerah-daerah yang asalnya terpencil.

            Penggunaan alat-alat pembelajaran yang modern dalam pendidikan mempengaruhi proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan menggunakan alat pembelajaran yang modern, anak didik akan temotivasi belajar dengan lebih aktif. Aktivitas belajar anak didik akan lebih tinggi intensitasnya dibandingkan metode belajar-mengajar yang hanya menggunakan kapur dan papan tulis saja. Saat ini teknologi tradisional telah semakin terdesak oleh adanya teknologi modern. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah menimbulkan banyak perubahan dalam nilai-nilai, baik nilai sosial, budaya, spiritual, intelektual, maupun material. Perkembangan IPTEKS juga menimbulkan kebutuhan baru, aspirasi baru, sikap hidup baru, dimana hal ini menuntut perubahan pada sistem dan isi kurikulum/pendidikan (Sukmadinata, 1988:110). Dalam siklus IPTEKS, manusia itu perlu disempurnakan dengan pendidikan, tanpa pendidikan manusia unggul yang terampil dan berbudaya dan berfalsafah tidak mungkin dapat dihasilkan (Gaffar, 1987:32)

            Pendidikan dapat merubah manusia dalam pikiran, perasaan dan perbuatanya dan karena itu dapat mempunyai peranan dalam mengubah masyarakat dan memberi corak baru kepada masyarakat dan kebuadayaan. Pendidikan lazim digunakan oleh pemerintah untuk mengubah individu dan masyarakat menurut falsafah dan cita-cita baru (Nasution, 1990:23). Pendidikan yang diharapkan masyarakat adalah pendidikan yang berorientasi kepada pembangunan dalam arti yang seluas-luasnya. Bila tidak berorientasi demikian, pendidikan itu tidak mempunyai fungsi tertentu dalam membentuk annusia agar mempunyai nilai tambah. Tanpa adanya nilai tambah sebagai produk pendidikan, pendidikan itu tidak berguna. Agar hal tersebut bermanfaat, ilmu dan teknologi modern diserap dan dikuasai serta diorientasikan pada tujuan pembangunan.

 

E. Simpulan

 

            Kurikulum sesuai kapasitasnya sebagai kegiatan perencanaan dalam pendidikan pada dasarnya akan membawa manusia bersikap modern, karena proses pendidikan berarti modernitas dalam nilai, sikap dan perilaku yang diwarnai dengan sikap kreatif, inovatif dan kontributif. Disamping itu kurikulum juga harus berpatokan pada empat pilar pendidikan yaitu learning to know, leraning to do, leraning to live togethet, dan leraning to be, yang kesemuanya bertujuan agar anak didik dapat bersaing di era global seperti saat ini.

            Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan dan pengembanngan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam yang meliputi empat landasan utama, yaitu landasan : (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi. Juga diperlukan bantuan hasil-hasil teknologi modern, seperti hasil-hasil industri modern yang bersifat hardware yang disebabkan oleh perkembangan IPTEKS yang bermuara pada munculnya kebutuhan baru, aspirasi baru dan sikap hidup baru.

            Kurikulum akan selalu mengalami perubahan, hal ini dikarenakan kurikulum adalah rekayasa paedagogik, karena kurikulum merupakan program pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan masyarakat setempat, dan karena kurikulum adalah rancangan kegiatan belajar mengajar.

            Setiap munculnya kurikulum baru, akan selalu memberikan harapan baru, seperti halnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini.

 

F. Saran

 

            Makalah ini merupakan tugas kelompok dan diajukan sebagai bagian dari tugas akhir mata kuliah LANDASAN PENDIDIKAN yang dibimbing Prof. Dr. Dwi Nugroho Hidayanto, M.Pd. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun banyak mengambil bahan dari buku rujukan yang masih berkaitan dengan mata kuliah LANDASAN PENDIDIKAN, dari internet, dan terutama dari buku PEMIKIRAN PENDIDIKAN; dari Filsafat ke Ruang Kelas oleh Dwi Nugroho Hidayanto – cet. I.

            Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini masih sanngat jauh dari sempurna, oleh sebab itu kritik, saran, dan masukan dari rekan-rekan mahasiswa Pasca Sarjana Kependidikan terutama dari Prof. Dr. Dwi Nugroho Hidayanto selaku Dosen pembimbing mata kuliah LANDASAN PENDIDIKAN sangat kami harapkan guna penyempurnaan penyusunan makalah-makalah berikutnya.

 

G. Sumber Bacaan

 

Dimyati, 1992. Program Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah Suatu Rekayasa Pedagogis. FIP IKIP Malang.

Hidayanto, Dwi Nugroho. 2007. Pemikiran Kependidikan dari Filsafat ke Ruang Kelas.

            Samarinda: LeKDIS.

Suyadnya, I Wayan, 2004. Menggagas Konsep Pendidikan Nasional.

www.balipos.co.id.

Arixs, 2006. Menyoal Perubahan Kurikulum Pendidikan Nasional.

            www.cybertokoh.com.

Fathani, Abdul Halim, 2006. Rekonstruksi Kurikulum Sekolah.

            www.penulislepas.com.

Kusumah, Wijaya, 2007. Pentingnya Landasan Filsafat Ilmu Pendidikan.

            http://wijayalabs.blogspot.com.

Sudrajat, Akhmad, 2008. Landasan Kurikulum.

            http://Akhmadsudrajat.wordpress.com.

 

 

 

 

 

Mei 18, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: